{"id":743,"date":"2022-08-23T06:10:31","date_gmt":"2022-08-23T06:10:31","guid":{"rendered":"https:\/\/a-empat.com\/?p=743"},"modified":"2022-08-23T06:10:31","modified_gmt":"2022-08-23T06:10:31","slug":"wahdat-al-wujud-ibn-ata-allah-al-sakandari-perspektif-tasawuf-falsafi","status":"publish","type":"post","link":"http:\/\/a-empat.com\/?p=743","title":{"rendered":"Wahdat al-Wujud Ibn \u2018Ata\u2019 Allah al-Sakandari Perspektif Tasawuf Falsafi"},"content":{"rendered":"<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-medium wp-image-744 alignleft\" src=\"http:\/\/a-empat.com\/wp-content\/uploads\/2022\/08\/Cover-gb-211x300.jpg\" alt=\"\" width=\"211\" height=\"300\" srcset=\"http:\/\/a-empat.com\/wp-content\/uploads\/2022\/08\/Cover-gb-211x300.jpg 211w, http:\/\/a-empat.com\/wp-content\/uploads\/2022\/08\/Cover-gb-722x1024.jpg 722w, http:\/\/a-empat.com\/wp-content\/uploads\/2022\/08\/Cover-gb-768x1090.jpg 768w, http:\/\/a-empat.com\/wp-content\/uploads\/2022\/08\/Cover-gb-1083x1536.jpg 1083w, http:\/\/a-empat.com\/wp-content\/uploads\/2022\/08\/Cover-gb-1444x2048.jpg 1444w, http:\/\/a-empat.com\/wp-content\/uploads\/2022\/08\/Cover-gb-388x550.jpg 388w, http:\/\/a-empat.com\/wp-content\/uploads\/2022\/08\/Cover-gb-352x500.jpg 352w, http:\/\/a-empat.com\/wp-content\/uploads\/2022\/08\/Cover-gb.jpg 1748w\" sizes=\"auto, (max-width: 211px) 100vw, 211px\" \/><\/p>\n<p>Dari segi corak ajaran dan pembahasan, Tasawuf terbagi menjadi dua; Tasawuf Amali dan Tasawuf Falsafi. Sebagian orang beranggapan bahwa Tasawuf Falsafi adalah tasawuf yang tidak bersumber dari al-Qur\u2019an dan Hadis. Tentu anggapan ini keliru terlebih jika menjadikan al-Shaykh al-Akbar Ibn \u2018Arabi sebagai tokoh Tasawuf Falsafi. Menurut pengakuan Ibn \u2018Arabi dalam karya monumentalnya <em>al-Futuhat al-Makkiyah<\/em>, apa yang dia tulis dalam karyanya tersebut tidak lain adalah hasil pemahamannya terhadap al-Qur\u2019an.<\/p>\n<p>Inti Tasawuf adalah <em>tasfiyah wa mushahadah<\/em>. Penyucian jiwa dan penyaksian kepada Allah Swt. Seseorang yang berhasil menyucikan jiwanya maka dia akan mengenal Allah Swt (<em>makrifatullah<\/em>). Proses penyucian jiwa (<em>tasfiyah<\/em>) kadang dibagi menjadi dua, <em>takhalli <\/em>dan <em>tahalli<\/em>. Setelah tahap ini dilalui maka seseorang akan mengalami <em>tajalli<\/em>, nama lain dari <em>mushahadah<\/em>.<\/p>\n<p>Ibn \u2018Arabi dianggap sebagai tokoh Sufi yang mengenalkan istilah wahdat al-wujud yang menurut penulis tidak lain adalah bentuk lain dari tajalli, mushahadah, atau makrifatullah yakni maqam spiritual yang dicapai oleh para sufi setelah mengalami fana dan baqa\u2019.<\/p>\n<p>Mushahadah atau Tajalli mengambil banyak bentuk dan dijelaskan oleh para sufi dengan berbagai istilah. Al-Hallaj mengenalkan istilah hulul, Rabiah al-Adawiyah dengan konsep mahabbah, Abu Yazid dengan konsep ittihad, Imam al-Ghazali dengan konsep makrifat, Ibn \u2018Arabi dengan konsep wahdat al-wujud, Suhrawardi al-Maqtul dengan ishraqiyah, Sirhindi dengan wahdat al-Shuhud, Mulla Sadra dengan Hikmah al-Muta\u2019alliyah, Burhanpuri dengan martabat tujuh, dan Syekh Siti Jenar dengan manunggaling kawula gusti.<\/p>\n<p>Buku ini mencoba untuk membahas konsep wahdat al-wujud Ibn \u2018Ata\u2019 Allah al-Sakandari dalam kitab al-Hikam. Beberapa ungkapan Ibn \u2018Ata\u2019 Allah al-Sakandari dalam kitab al-Hikam dapat dikategorikan dalam wilayah pembahasan wahdat al-wujud.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dari segi corak ajaran dan pembahasan, Tasawuf terbagi menjadi dua; Tasawuf Amali dan Tasawuf Falsafi. Sebagian orang beranggapan bahwa Tasawuf Falsafi adalah tasawuf yang tidak bersumber dari al-Qur\u2019an dan Hadis. Tentu anggapan ini keliru terlebih jika menjadikan al-Shaykh al-Akbar Ibn [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[21],"tags":[],"class_list":["post-743","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-seri-tesis"],"jetpack_featured_media_url":"","_links":{"self":[{"href":"http:\/\/a-empat.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/743","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"http:\/\/a-empat.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"http:\/\/a-empat.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/a-empat.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/a-empat.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=743"}],"version-history":[{"count":1,"href":"http:\/\/a-empat.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/743\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":745,"href":"http:\/\/a-empat.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/743\/revisions\/745"}],"wp:attachment":[{"href":"http:\/\/a-empat.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=743"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"http:\/\/a-empat.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=743"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"http:\/\/a-empat.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=743"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}