Description
vi + 104 halaman | 16 cm x 25 cm
Islam sebagai ajaran ilahiah tidak cukup berhenti sebagai konsep normatif, tetapi harus terwujud dalam realitas kehidupan. Tanpa dakwah, manusia akan kehilangan arah dan nilai-nilai ketuhanan tidak akan membumi dalam tatanan individu maupun sosial. Karena itu, dakwah bukan sekadar tugas para nabi, melainkan tanggung jawab kolektif seluruh umat Islam sebagaimana ditegaskan dalam QS. Ali ‘Imran: 104 dan hadis Nabi, “Sampaikanlah dariku walau satu ayat.”
Buku ini mengulas pentingnya dakwah yang dilakukan dengan hikmah, mau‘izhah hasanah, dan mujadalah secara santun sebagaimana tuntunan QS. al-Nahl: 125. Keberhasilan dakwah tidak diukur dari gemuruh respons sesaat, tetapi dari perubahan sikap dan perilaku masyarakat. Keteladanan, pendekatan psikologis, serta strategi bertahap sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW menjadi fondasi utama efektivitas dakwah.
Secara khusus, buku ini menyoroti peran dakwah sufistik dalam proses Islamisasi di Banten. Dengan pendekatan damai, akomodatif terhadap budaya lokal, dan menekankan dimensi tasawuf, para ulama seperti Syarif Hidayatullah, Syaikh Yusuf al-Makasari, Syaikh Abdul Karim al-Tanara, dan K.H. Asnawi Caringin berhasil mengubah peta keberagamaan masyarakat dari Hindu-Buddha menjadi mayoritas Muslim tanpa gejolak berarti.
Melalui kajian historis dan refleksi konseptual, buku ini mengungkap bagaimana tasawuf bukan hanya membangun kesalehan spiritual, tetapi juga membentuk tatanan sosial dan budaya yang religius. Sebuah ikhtiar memahami bahwa keberhasilan dakwah terletak pada kemampuan merawat tradisi, menyentuh hati, dan menghadirkan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam.



Reviews
There are no reviews yet.